Jumat, 08 Juli 2011

cerita saya: Dalam agama Islam diajarkan bahwa ada tig...

cerita saya:








Dalam agama Islam diajarkan bahwa ada tig...
: "Dalam agama Islam diajarkan bahwa ada tiga amalan yang akan terus mengalir pahalanya walau pemiliknya telah tinggalkan dunia fana ..."









Dalam agama Islam diajarkan bahwa ada tiga amalan yang akan terus mengalir pahalanya walau pemiliknya telah tinggalkan dunia fana yaitu ;
1.ilmu yang bermanfaat
2.amal jariyah dan
3.doa anak sholeh
Ini bermakna bahwa orang tua diminta untuk mendidik anaknya agar menjadi anak yang sholeh yang kelak diharapkan akan terus mendoakan orang tuanya. Pesan dari ajaran tersebut adalah pesan tentang pendidikan, pendidikan kepada anak, yang ganjarannya begitu menggiurkan karena pahalanya akan terus mengalir meski kita sudah meninggal.

Ada sebuah doa yang dikenal dengan nama ‘Doa Anak Sholeh’ dan yang diajarkan oleh hampir semua orang tua muslim kepada anak-anak mereka dengan harapan agar anak-anak mereka mau mendoakan mereka dengan doa ini. Begini bunyinya :
“ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO”
Artinya dalam Bahasa Indonesia : “ Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”
Doa ini begitu populernya sehingga hampir semua anak di sekolah hafal dengan doa ini. Doa ini juga cukup pendek dan sangat mudah dihafalkan oleh anak-anak. Dalam jangka waktu singkat anak balita bisa mengingat dan menghafalnya. Akan sungguh mengggemaskan jika kita mendengar anak balita yang masih cedal membacakan doa ini. Kalau anak kita bisa membaca doa ini rasanya hati orang tua langsung ‘mak nyes’, adem dan bahagia!
Meski kita berusaha mengajarkan doa ini kepada anak-anak kita, pernahkah kita benar-benar memperhatikan dan memahami makna dari doa ini? Sebagai seorang pendidik saya sungguh takjub dengan pesan yang hendak disampaikan oleh doa ini. Coba perhatikan kalimatnya baik-baik dan pikirkan mengapa doanya seperti itu. Mengapa anak-anak kita diminta untuk berdoa agar orang tuanya disayangi ‘sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil’? Mengapa redaksinya bukan ‘sebagaimana mereka menyayangiku selama ini’, umpamanya. Mengapa justru ditekankan ‘sewaktu aku masih kecil’? Apakah doa ini hanya berlaku bagi anak yang masih kecil saja dan jika sudah lebih dewasa maka redaksinya akan diubah menjadi. :”Sewaktu aku ABG, atau sewaktu dewasa’, umpamanya? Tidak. Doa itu redaksinya tidak berubah redaksinya meski kita mendoakan orang tua kita ketika kita sendiri telah tua. Redaksinya tidak berubah dan tidak perlu diubah.
Lantas mengapa begitu redaksinya?
Menurut saya, doa ini mengandung pesan pendidikan yang sungguh dalam bagi para orang tua. Jadi sebenarnya doa ini memang pesannya UNTUK ORANG TUA dan bukan untuk si anak. Melalui doa ini terkandung pesan untuk meminta agar orang tua mendidik dan menyayangi anaknya dengan sebaik-baiknya, khususnya SEWAKTU KECIL. Para orang tua diminta untuk mencurahkan kasih sayangnya sepenuh-penuhnya kepada anaknya sewaktu kecil karena sewaktu kecil itulah anak-anak kita membutuhkan kasih sayang yang tak terhingga sebagai bekal bagi mereka mengarungi hidup sewaktu besar nantinya. Dengan kasih sayang yang berlimpah dan pendidikan yang baik pada waktu kecil (bukan berarti memanjakannya) maka sang anak akan punya fondasi mental dan spiritual yang kuat dalam menghadapi hidup mereka di masa dewasa nantinya. Dengan doa ini seolah hendak dikatakan kepada para orang tua,:”Wahai para orang tua, sayangilah anak-anakmu sebaik-baiknya pada saat mereka masih kecil. Berikan semua yang terbaik darimu kepada anak-anakmu ketika mereka masih kecil. Janganlah sampai mereka mendapati hal yang buruk dan tidak baik darimu ketika mereka masih kecil. Janganlah sampai engkau menunjukkan sikap kasar, keras dan kejammu pada anakmu waktu masih kecil karena Tuhanmu akan mengganjarmu sesuai dengan perbuatanmu pada anakmu ketika masih kecil (dan bukan pada masa yang lain)”
Secara alami orang tua memang sangat menyayangi anak-anak mereka ketika masih kecil. Itu masa-masa ketika orang tua sangat menyayangi dan melindungi anak-anak mereka. Mereka melimpahinya dengan berbagai pujian dan hadiah. Pelukan dan ciuman datang tak henti-hentinya. Kata-kata lembut dan panggilan sayang berhamburan. Rasanya apa saja yang diminta oleh anak sewaktu ia masih kecil segera dituruti dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Para orang tua biasanya menolerir semua kesalahan anak-anak mereka dan tidak marah meskipun anak memecahkan barang orang tua yang paling disayangi.
Hal ini tentu berbeda dengan ketika anak sudah cukup besar. Pada saat itu orang tua sudah mulai kurang toleran. Pujian semakin berkurang dan hukuman semakin banyak. Raut muka dan tutur kata sudah mulai berubah. Pendek kata kasih sayang orang tua sudah berbeda dengan ketika anak masih kecil. Itulah sebabnya doa tersebut menyebutkan secara spesifik WAKTU TERINDAH dalam hubungan anak dan orang tua, yaitu ‘sewaktu masih kecil’. Orang tua akan dimintakan ganjaran kepada Tuhan pengampunan dosa dan balasan kasih sayang yang terbaik dari Allah sebagaimana mereka melakukan hal yang terbaik kepada anak mereka sewaktu mereka masih kecil.
Jadi dengan redaksi doa itu kita sebenarnya diminta untuk menyayangi anak-anak kita ‘habis-habisan’ ketika mereka masih kecil karena upaya kita pada saat itulah yang akan menjadi perhitungan untuk balasannya dari Allah kelak. Hal itu juga sesuai dengan kebutuhan anak yang memerlukan kasih sayang yang berlimpah ketika masih kecil karena mereka benar-benar masih sangat bergantung pada orang tua pada saat itu. Hal itu juga sesuai dengan fitrahnya orang tua yang masih benar-benar ‘all-out’ dalam menyayangi anaknya ketika masih kecil. Doa itu memang mengandung pesan pendidikan luar biasa!
Jadi jika Anda masih punya anak kecil yang akan Anda jari doa tersebut jangan lupa bahwa doa itu sebenarnya pesan dari Tuhan kepada Anda. Berikan yang terbaik dan terindah dari Anda kepada anak-anak Anda yang masih kecil tersebut. Dengan demikian doa mereka akan sungguh-sungguh dan menghasilkan buah pahala yang tidak putus-putusnya.

Senin, 20 Juni 2011


aku bagai laut tak bertepi dan tak berkarang
aku bagai bintang yang tak ditemani malam
melihat dirimu ada senyum canda dan tawa
yang membuat aku tak ingin pergi darimu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
* teringat janji lamamu kepadaku
teringat aku teringat
teringat saat kau masih ada di sini
temani ku sepanjang hari
reff:
bila kau pergi jauh ingatlah aku
bila ku di sampingmu peluk tubuhku
bila kau rindu aku panggil namaku
ku datang menemuimu
peluk erat jasadku jangan lepaskan
tetaplah kau di sini arungi malam
karna hanya dirimu belahan jiwa
pelengkap ku di dunia

Minggu, 12 Juni 2011

AKU BUKAN KAMERAMEN



Sebenarnya apa saja sih yang harus dilakukan oleh seorang kameramen? Tak jauh berbeda dengan
gambaran yang kita punyai di otak kita saat membayangkan pekerjaan seorang kameramen. Hanya saja,
saat kita membayangkan, tentunya akan berbeda dengan orang yang menghadapi objek berita.
Tugas utama seorang kameramen tentunya adalah mengambil angle berita yang terbaik untuk
bisa disajikan sebagai suatu acara, baik untuk acara hiburan ataupun acara-acara yang lebih serius.
Dalam pengambilan gambar, dia juga ditemani oleh seorang reporter. Bersama dengan reporterlah
mereka akan mengejar berita yang telah ditentukan seorang koordinator liputan (korlip). Dalam waktu
sehari, seorang kameramen bisa meliput sekitar 3 macam berita, atau bahkan bisa lebih. Tergantung
porsi dan kewajiban yang dibebankan padanya.
Setelah pengambilan gambar, rekaman gambar yang didapatkan diberikan dan di-edit ulang untuk
ditayangkan di televisi. Tugas mengedit ini dilakukan oleh seorang editor. Meski terkadang,
tugas ini bisa saja dilakukan oleh kameramen itu sendiri bersama dengan reporter yang bersangkutan.
Jika Anda tertarik untuk menjadi seorang kameramen ini, modal pertama yang diperlukan adalah
keberanian Anda menghadapi segala macam kemungkinan. Kenapa demikian? Yah, coba saja Anda
bayangkan, jika Anda harus meliput kerusuhan, bukan tidak mungkin Anda sebagai kameramen
bisa “terkena” imbas dari kerusuhan tersebut.
Syarat-syarat yang lain misalnya tinggi minimal 170 cm, ini diperlukan untuk mengambil
angle gambar yang terbaik, jika menghadapi kerumunan. Biasanya juga seorang kameramen juga
berbadan tinggi besar. Tak mengherankan, karena tugasnya harus menenteng kamera dengan berat
sekitar 10 kg sambil berlari-lari, misalnya. Syarat mendasar lainnya adalah, tak memakai
kacamata. Tentu saja demikian, karena dalam mencari berita, jika seorang kameramen memakai
kacamata, akan sulit dalam mendapatkan objek yang ingin “ditangkap” oleh lensa kamera.
Tetapi tentunya persyaratan tersebut hanyalah persyaratan dasar saja.
Satu syarat lain adalah harus mempunyai sertifikat kameramen, yaitu sertifikat yang membuktikan
kalau orang tersebut bisa dan telah mampu mengoperasikan sebuah kamera. Meski demikian,
untuk saat permulaan calon kameramen juga memerlukan pelatihan yang biasanya memakan waktu
berbulan-bulan. Baru setelah itu, barulah ia bisa terjun sepenuhnya sebagai kameramen

Sabtu, 11 Juni 2011

Seperti sebuah janji
aku dan kau, tidak lebih dari satu
kidung sebuah perahu menidurkan ombak
sempurna
disana seorang lelaki menanam dirinya
ke perut samudera, dalam sekali
seperti sebuah janji
aku dan kau, tidak kurang dari satu
suara-suara dari bukit menikam lembah
berdarah
disana, seorang perempuan menanti
sebuah masa, lama sekali
seperti sebuah janji,
aku dan kau, hanya satu